Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Apr
Industri fast fashion telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, yang ditandai dengan siklus produksi dan konsumsi yang cepat karena akses penjualan maupun pemelian cenderung lebih mudah, serta harga yang terjangkau dibandingkan sebelumnya. Namun, di balik harga pakaian yang terjangkau dan trendi, terdapat dampak buruk yang signifikan terhadap lingkungan. Fast fashion merupakan kontributor utama terhadap perubahan iklim, polusi, dan penipisan sumber daya, yang semuanya berdampak buruk bagi ekosistem di bumi. Dalam artikel ini, penulis mengkaji data numerik yang menggambarkan dampak buruk fast fashion terhadap lingkungan seperti konsumsi air yang cukup besar, emisi karbon, limbah industri, penipisan sumber daya, dan polusi kimia.
Menurut World Resources Institute, dibutuhkan sekitar 2.700 liter air untuk menghasilkan satu kaos katun, setara dengan jumlah air yang diminum seseorang selama periode tiga tahun. Industri fesyen merupakan konsumen air terbesar kedua di dunia, dan budidaya kapas merupakan salah satu tanaman yang paling banyak menggunakan air. Konsumsinya berkisar antara 20 triliun hingga 200 triliun liter setiap tahunnya. Proses pewarnaan dan penyelesaian akhir dalam manufaktur tekstil berkontribusi terhadap pencemaran air, dengan perkiraan 20% pencemaran air industri berasal dari pewarnaan dan pengolahan tekstil. Penggunaan air ini mempunyai dampak yang signifikan terhadap kelangkaan air di wilayah dimana industri ini sangat terkonsentrasi (Niinimäki et al., 2020).
Industri fesyen menyumbang sekitar 10% emisi karbon global sehingga menjadikannya pemain penting dalam krisis iklim, menurut Program Lingkungan PBB (UNEP). Hal ini disebabkan oleh proses intensif energi yang terlibat dalam pembuatan, transportasi, dan pembuangan pakaian. Ketergantungan industri fesyen terhadap transportasi yang murah dan cepat, berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, karena produk garmen seringkali menempuh jarak ribuan mil dari fasilitas produksi ke toko ritel. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Industrial Ecology menemukan bahwa rata-rata jejak karbon rumah tangga untuk konsumsi pakaian di Amerika Serikat adalah sekitar 1,5 ton setara CO2 per tahun (Peters et al., 2021).
Industri fast fashion menghasilkan limbah dalam jumlah besar, baik pada saat produksi maupun setelah dikonsumsi, sehingga menghasilkan jumlah limbah tekstil yang sangat besar. Yayasan Ellen MacArthur memperkirakan bahwa setara dengan satu truk sampah tekstil yang ditimbun atau dibakar setiap detiknya. Hanya 1% tekstil yang didaur ulang menjadi pakaian baru, dan sebagian besar berakhir di tempat pembuangan sampah atau insinerator. Poliester, bahan yang biasa digunakan dalam fast fashion, membutuhkan waktu hingga 200 tahun untuk terurai sehingga melepaskan metana, gas rumah kaca yang kuat, ke atmosfer (Bick et al., 2018).
Data numerik yang disajikan di atas menggarisbawahi dampak buruk fast fashion terhadap lingkungan. Mulai dari konsumsi air yang berlebihan hingga emisi karbon dan limbah yang dihasilkan. Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, diperlukan upaya kolektif dari para pemangku kepentingan industri, pembuat kebijakan, dan konsumen. Dengan menerapkan praktik fesyen berkelanjutan, seperti mengurangi konsumsi, mendorong manufaktur yang beretika, dan menerapkan sirkularitas, untuk menuju industri fesyen yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan berkeadilan. (Dita)
DAFTAR PUSTAKA:
Bick, R., Halsey, E., & Ekenga, C. C. (2018). The global environmental injustice of fast fashion. Environmental Health: A Global Access Science Source, 17(1), 1–4. https://doi.org/10.1186/s12940-018-0433-7
Peters, G., Li, M., & Lenzen, M. (2021). The need to decelerate fast fashion in a hot climate - A global sustainability perspective on the garment industry. Journal of Cleaner Production, 295, 126390. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2021.126390