08

Des

WOMAN BLITZ GAET PRODI ILMU KOMUNIKASI KAMPANYEKAN ANTI BULLYING

Bullying menjadi fenomena yang kian memprihatinkan. Begitu parahnya bullying menjadikan kesehatan mental korbannya terganggu. Bahkan tak jarang pula  hingga bunuh diri. Fenomena inilah yang dibahas dalam kampanye anti kekerasan perempuan bertajuk Kelas Keliling (KELING) pada Senin, (25/11). Dalam kampanye ini, Woman Blitz dan Think Woman menggaet Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya.

KELING yang bertempat di Ruang Seminar Utama Gedung Q lantai 2 ini menghadirkan Kalis Mardiasih sebagai pembicara. Di hadapan audiens, penulis kelahiran Yogyakarta ini membagikan pengalamannya, “Penulis perempuan mendapatkan bully berbeda dengan bully yang didapatkan oleh penulis lelaki. Saya lebih aktif di Twitter. Suatu saat ada yang mengomentari foto profil saya, ‘Mbak, kerudungan gak bener jangan ngomongin Islam’. Eh ketika saya berganti foto profil, lain lagi komentar yang masuk, ‘Pakai kerudung besar kok pendapatnya sesat, copot deh’. Jadi serba salah.”

Menurut Kalis, setiap perempuan pasti mudah ditandai dari apa yang dipakai. “Belum lagi perempuan tidak berkerudung, jauh lebih beragam lagi bullying-nya. Berbeda kalau Ustad yang tidak memakai peci atau bahkan memakai topi reggae. Itu justru dianggap gaul. Tetapi tidak pada perempuan.” Dia menyayangkan, bullying bisa sampai masuk dalam ranah privasi. “Kita bisa lihat bagaimana Rina Nose dan Salmafina di-bully. Itu kan sebenarnya privasi mereka. Apalagi terkait cara berpakaian,” tutur Kalis.

Sementara  Benedicta Herlina yang turut hadir sebagai pembicara menjelaskan esensi bullying. “Sebenarnya bullying itu sudah pasti kekerasan. Bisa langsung melakukan kekerasan atau bisa berupa ancaman untuk melakukan kekerasan. Jadi antara kekerasan atau ancaman tujuannya untuk mengintimidasi atau memanipulasi orang lain,” kata wanita yang berprofesi sebagai Direktur Savy Amira Women’s Crisis Center. Dia menuturkan, “Bullying itu tidak hanya dilakukan sekali, tapi berulang. Biasanya dilakukan oleh orang dikenal atau yang sudah mempunyai relasi. Ada perbedaan kuasa, misalnya fisik atau sosial.”

Baik Kalis maupun Benedicta setuju bahwa perempuan korban bully kerap menganggap bahwa diam lebih baik. Era keterbukaan, kata Kalis, seharusnya dimanfaatkan untuk berani berbicara, “Minimal dengan teman sekitar, lalu bergerak ke komunitas yang lebih besar.” Sementara Benedicta mengajak semua pihak untuk bersatu mengkampanyekan stop bullying, “Hal-hal semacam ini tidak boleh berkembang subur. Arenanya akademisi, egiat media sosial dan aktivis harus bersatu untuk katakan tidak pada bullying,” tutupnya. (um/ze)

 

Sumber: https://untag-sby.ac.id/web/beritadetail/woman-blitz-gaet-prodi-ilmu-komunikasi-kampanyekan-anti-bullying.html