Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Apr
Merdeka Belajar Kampus Merdeka atau biasa disebut dengan MBKM, merupakan program terobosan yang diluncurkan oleh Kemendikbudristek sebagai bagian dari peraturan baru, program yang berguna melakukan modifikasi pada sistem pendidikan tinggi di negara Indonesia agar memiliki lulusan yang lebih relevan dengan kariernya. MBKM juga disediakan oleh Kemendikbudristek maupun MBKM mandiri yang memiliki teknis disediakan oleh masing-masing perguruan tinggi.
Agenda yang diprogram secara khusus ini menjadi kesempatan besar bagi sejumlah perguruan tinggi untuk mengajak mahasiswa mengikuti kegiatan memanfaatkan setiap program dengan baik. Adapun mahasiswa dapat mengikuti program yang meliputi pertukaran mahasiswa, riset, magang, mengajar, KKN, dan sebagainya.
Pada forum diskusi rapat kerja Komisi X DPR RI (26/01/2023), Nadiem Anwar Makarim selaku Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi atau Mendikbudristek menguraikan pencapaian pendidikan tinggi, pencapaian pendidikan, dan pelatihan vokasi. Dalam tingkat perguruan tinggi terdapat 493.484 mahasiswa yang berkesempatan melakukan belajar di luar kampus. Ia mengaku senang mahasiswa yang mengikuti program belajar di luar kampus mencapai 500 ribu orang.
Selain itu, Muhammad Kadafi yang menjadi bagian dari anggota Komisi X DPR RI memberikan apresiasi untuk pencapaian pendidikan tinggi, harapan beliau program Kampus Merdeka akan menarik lebih banyak mahasiswa dan kualitas juga meningkat sehingga MBKM dapat membantu mahasiswa yang kurang mampu menjadi berpartisipasi. Tidak hanya untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), tetapi menggandeng lebih banyak pula pada keterlibatan Perguruan Tinggi Swasta (PTS).” Dilansir dari kemendikbud.go.id (diakses pada 19 Maret 2024).
Partisipasi mahasiswa dalam mengikuti program MBKM biasanya tidak lepas dari peluang besar untuk mengikuti belajar di luar kampus, menambah pengalaman pada bidang yang relevan atau diminati, hingga tawaran mendapatkan tunjangan atau diperkenankan tidak mengikuti mata kuliah hingga 20 sks.
Pada intinya pengembangan soft skills dan hard skills dapat dilakukan saat mengikuti MBKM. Setiap perguruan tinggi dan program studi memiliki kebijakan masing-masing perihal tawaran yang diberikan. Mata kuliah wajib atau praktikum sering kali menjadi pertimbangan mahasiswa yang berminat mengikuti MBKM.
Di sisi lain, sejumlah warga net membagikan cuitan mereka melalui platform X terkait MBKM dan tawaran konversi mata kuliah:
Sumber: https://twitter.com/angganalyst/status/1765206494784757957
Pengguna dengan username @granolish menjawab cuitan Angga D dalam thread khusus:
Sumber: https://twitter.com/granolish/status/1765232848624341489?t=_wq8i-cFeAfbVy4DngdndA&s=19
Sebagai mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang telah mengikuti MBKM program studi pada semester 5 di JTV Surabaya bulan Desember lalu, saya mengaku tawaran konversi 20 SKS ketika mengikuti MBKM meringankan beban saya selama satu semester. Saya hanya perlu mengikuti mata kuliah wajib lalu fokus mengikuti magang dengan mitra tersebut, tetapi saat memasuki semester 6, saya menemukan banyak kesulitan dalam mengikuti perkuliahan karena mata kuliah yang diajarkan oleh dosen bertahap dari semester sebelumnya.
Dengan kata lain, saya tidak memiliki banyak pegangan untuk mempelajari mata kuliah yang sedang ditempuh. Sebagai mahasiswa tentu saya bisa memanfaatkan waktu libur semester untuk mempelajari mata kuliah yang dikonversi. Namun, tidak ada seorang pengajar ahli yang memberikan pemahaman materi seperti biasanya saat belajar di kampus akan cenderung menghasilkan pemahaman yang berbeda dalam menangkap materi.
Beragamnya tanggapan yang muncul terkait program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) menggambarkan dampak yang signifikan bagi mahasiswa dan sistem perguruan tinggi di Indonesia. Sejumlah pihak memandang MBKM sebagai batu loncatan yang berpotensi mendapatkan pengembangan pengalaman di luar kampus dan mencapai hasil yang relevan sesuai keinginan mahasiswa, tanggapan lain tersorot pada penurunan pemahaman teori dalam mata kuliah yang seharusnya ditempuh akibat konversi SKS.
Penting untuk memastikan bahwa implementasinya tidak mengorbankan kualitas pendidikan. Pemerintah sebaiknya terus mengevaluasi perkembangan dan realitas yang terjadi pada dampak program MBKM yang setiap tahun dijalankan oleh mahasiswa. Peran pihak universitas dan dosen pembimbing pun penting dalam kasus ini, sehingga mahasiswa memerlukan tanggapan jelas mengenai program MBKM yang berminat untuk diambil dan apa efek sampingnya bagi mereka. Lebih bijak dalam mengambil keputusan untuk ikut MBKM harus menjadi pondasi ketika SKS yang menjadi taruhannya. (Febrianti Dewi)
Referensi : MERDEKA BELAJAR ATAU MERDEKA MENINGGALKAN KELAS? – DIMENSI (wordpress.com)