Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Okt
Berbicara tentang politik seringkali menjadi hal
yang sensitif. Tidak jarang, seseorang memilih diam meski memiliki pandangan
atau opini yang kuat terhadap isu tertentu. Fenomena ini ternyata dapat
dijelaskan melalui Teori Spiral of
Silence yang diperkenalkan oleh Elisabeth Noelle-Neumann, seorang ilmuwan
komunikasi asal Jerman pada tahun 1974.
Teori ini berangkat dari asumsi bahwa manusia
adalah makhluk sosial yang tidak ingin terisolasi dari lingkungannya. Dalam
konteks politik, ketika seseorang merasa bahwa pandangannya berbeda dengan
mayoritas atau kurang populer, ia cenderung menahan diri untuk tidak
menyuarakannya. Diam dianggap lebih aman ketimbang harus menanggung risiko
dikucilkan, ditentang, atau bahkan dipermalukan. Inilah
yang disebut sebagai spiral of silence, yakni sikap diam yang terus berulang
dan menular, sehingga suara-suara minoritas semakin jarang terdengar.
Di era media sosial, fenomena ini semakin jelas terlihat. Algoritma
platform digital seringkali memperkuat opini mayoritas, membuat pandangan yang
berbeda seolah semakin kecil. Akibatnya, orang-orang yang merasa berada di
pihak minoritas memilih pasif, meski sebenarnya memiliki argumen yang valid. Diam bukan berarti tidak peduli, melainkan bentuk
strategi untuk menghindari konflik sosial.
Menariknya, teori ini juga menjelaskan mengapa isu
politik tertentu tampak hanya memiliki satu arus pendapat yang dominan.
Padahal, bisa jadi ada banyak orang yang berpikir berbeda, tetapi tidak berani
mengungkapkannya. Hal ini bisa berbahaya karena diskusi publik menjadi timpang.
Jika hanya satu sisi yang mendominasi, ruang demokrasi akan kehilangan
keragamannya.
Namun, bukan berarti teori spiral
of silence tidak bisa dipatahkan. Penting untuk menciptakan ruang diskusi
yang aman dan inklusif, baik di lingkungan nyata maupun digital. Media juga
berperan penting dalam menghadirkan keberagaman sudut pandang, sehingga
masyarakat tidak merasa harus selalu mengikuti arus opini mayoritas.
Pada akhirnya, keberanian untuk berpendapat memang tidak mudah,
terutama dalam topik yang penuh sensitivitas seperti politik. Tetapi, menyadari
adanya teori spiral of silence membantu kita memahami bahwa diamnya seseorang
bukan berarti ia tidak memiliki pendapat, melainkan karena ada mekanisme sosial
yang membuatnya enggan berbicara.
Dengan pemahaman ini, kita bisa lebih bijak dalam menghargai perbedaan
pandangan serta mendorong terciptanya iklim komunikasi yang sehat, di mana
setiap suara—baik mayoritas maupun minoritas—mendapat ruang yang sama untuk
didengar. Rizka Ermawati Insani
Referensi:
https://kumparan.com/media-publica/perkembangan-teori-spiral-keheningan-dalam-media-sosial