07

Okt

Mengapa Banyak Orang Enggan Berpendapat Politik? Teori Spiral of Silence Punya Jawaban!

Berbicara tentang politik seringkali menjadi hal yang sensitif. Tidak jarang, seseorang memilih diam meski memiliki pandangan atau opini yang kuat terhadap isu tertentu. Fenomena ini ternyata dapat dijelaskan melalui Teori Spiral of Silence yang diperkenalkan oleh Elisabeth Noelle-Neumann, seorang ilmuwan komunikasi asal Jerman pada tahun 1974.

Teori ini berangkat dari asumsi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak ingin terisolasi dari lingkungannya. Dalam konteks politik, ketika seseorang merasa bahwa pandangannya berbeda dengan mayoritas atau kurang populer, ia cenderung menahan diri untuk tidak menyuarakannya. Diam dianggap lebih aman ketimbang harus menanggung risiko dikucilkan, ditentang, atau bahkan dipermalukan. Inilah yang disebut sebagai spiral of silence, yakni sikap diam yang terus berulang dan menular, sehingga suara-suara minoritas semakin jarang terdengar.

Di era media sosial, fenomena ini semakin jelas terlihat. Algoritma platform digital seringkali memperkuat opini mayoritas, membuat pandangan yang berbeda seolah semakin kecil. Akibatnya, orang-orang yang merasa berada di pihak minoritas memilih pasif, meski sebenarnya memiliki argumen yang valid. Diam bukan berarti tidak peduli, melainkan bentuk strategi untuk menghindari konflik sosial.

Menariknya, teori ini juga menjelaskan mengapa isu politik tertentu tampak hanya memiliki satu arus pendapat yang dominan. Padahal, bisa jadi ada banyak orang yang berpikir berbeda, tetapi tidak berani mengungkapkannya. Hal ini bisa berbahaya karena diskusi publik menjadi timpang. Jika hanya satu sisi yang mendominasi, ruang demokrasi akan kehilangan keragamannya.

Namun, bukan berarti teori spiral of silence tidak bisa dipatahkan. Penting untuk menciptakan ruang diskusi yang aman dan inklusif, baik di lingkungan nyata maupun digital. Media juga berperan penting dalam menghadirkan keberagaman sudut pandang, sehingga masyarakat tidak merasa harus selalu mengikuti arus opini mayoritas.

Pada akhirnya, keberanian untuk berpendapat memang tidak mudah, terutama dalam topik yang penuh sensitivitas seperti politik. Tetapi, menyadari adanya teori spiral of silence membantu kita memahami bahwa diamnya seseorang bukan berarti ia tidak memiliki pendapat, melainkan karena ada mekanisme sosial yang membuatnya enggan berbicara.

Dengan pemahaman ini, kita bisa lebih bijak dalam menghargai perbedaan pandangan serta mendorong terciptanya iklim komunikasi yang sehat, di mana setiap suara—baik mayoritas maupun minoritas—mendapat ruang yang sama untuk didengar. Rizka Ermawati Insani

Referensi:

https://fisipupri.ac.id/2024/03/30/apa-itu-teori-spiral-keheningan-spiral-of-silence-theory/#:~:text=Tapi%20mengapa%20berbeda%20pendapat%20begitu,Spiral%20of%20Silence%20Theory

https://binus.ac.id/bekasi/2024/12/teori-spiral-of-silence-dalam-era-digital/#:~:text=Fenomena%20ini%20diperkuat%20oleh%20algoritma,sehat%20dan%20memperkuat%20polarisasi%20sosial

https://kumparan.com/media-publica/perkembangan-teori-spiral-keheningan-dalam-media-sosial