Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Okt
Surabaya — Di balik bersih dan tertatanya setiap sudut Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNTAG Surabaya, ada sosok sederhana yang setia menjaga kenyamanan lingkungan kampus selama lebih dari tiga dekade. Dialah Bapak Nur Samad, salah satu tenaga kependidikan yang memulai perjalanan panjangnya di FISIP sejak tahun 1991.
“Saya mulai dari cleaning service. Waktu itu masuk lewat CV, dan alhamdulillah di tahun 2010 saya diangkat jadi karyawan tetap,” kenangnya dengan senyum hangat. Dari awal yang sederhana, semangat dan ketekunan membuatnya menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga besar FISIP.
Saat pertama kali datang ke kampus, Nur Samad masih ingat rasa kagumnya. “Gedungnya besar sekali, sempat mikir ‘wah kerja di tempat sebesar ini sendirian?’ Tapi ternyata banyak teman, suasananya ramai dan menyenangkan,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Bagi pria yang akrab disapa Pak Samad ini, kenyamanan bekerja bukan hanya soal fasilitas, tapi juga soal kehangatan antar-manusia. “Yang bikin betah itu orang-orangnya. Dosen, pegawai, semuanya ramah. Nggak ada perbedaan antara cleaning service dan pegawai lain. Kami semua dianggap keluarga,” tuturnya.
Meski tugasnya terlihat sederhana, ada kepuasan tersendiri yang ia rasakan. “Senang rasanya kalau bisa membantu dosen dan mahasiswa. Kalau ruangan bersih dan kegiatan berjalan lancar, saya juga ikut bahagia,” katanya.
Ketika ditanya tentang arti kebahagiaan, jawabannya lugas namun mengena: “Bahagia itu kalau di rumah nggak ada kekurangan, istri mendukung, dan kami saling melengkapi. Hidup sederhana tapi saling menerima, itu sudah cukup.”
Dari sekian banyak pengalaman, yang paling berkesan baginya adalah kebersamaan antarpegawai. “Kalau ada makanan sedikit, ya makan bareng. Kalau nggak ada, ya cari sama-sama. Kebersamaan itu yang saya selalu ingat,” katanya sambil tersenyum.
Ia pun berharap suasana kampus bisa kembali seramai dulu. “Saya ingin FISIP seperti tahun 1994–1996, mahasiswa ramai, kegiatan padat, dan suasana hidup sekali,” harapnya.
Bagi Pak Samad, setiap hari adalah anugerah. “Saya bersyukur bisa kerja dari pagi sampai sore, pulang selamat, dan bangun lagi keesokan harinya. Itu sudah cukup,” katanya menutup percakapan dengan senyum penuh ketenangan.
sumber: fisip.untag-sby.ac.id