Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Des
SURYA.co.id | SURABAYA - Dalam Seminar Nasional Komunikasi, Literasi Media, dan Budaya bertema mendefinisikan kembali identitas budaya Indonesia di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag), Kamis (28/11/2019), dibahas tentang kekuatan budaya dan pemahaman atas situasi komunikasi terkini. Muhamad Sulhan (Ketua Aspikom Pusat) , Abdul Khohar, Sam Abede Pareno, dan Setya Yuwana menjadi pembicara utama dalam seminar yang diikuti lebih dari 200 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Media sosial menjadi salah satu saluran yang dengan mudah membuat orang mudah menerima dan menyampaikan informasi.
Situasi itu yang membuat informasi menjadi mudah diakses, baik informasi yang benar atau tidak. Itu harus diwaspadai karena informasi nyaris tanpa saringan. Kekhawatiran itu yang diingatkan Abdul Khohar dari Medcom.id. "Media mainstreamlah yang akan menjadi rujukan bagi kebenaran informasi," katanya. Ia mengingatkan, keputusan sebelum meyakini berita harus diikuti dengan kemauan mengecek kebenaran informasi.
Situasi baru berupa gelontoran informasi harus diimbangi dengan kuatnya saringan terhadap informasi dan membaca pop culture dengan cepat. "Itu yang harus dipahami jika ingin menjual kekuatan budaya kita. Mazhab proses di era komunikasi harus menjadi cara untuk menjadi lebih besar," ungkap Sulhan dari Universitas Gadjah Mada. Ia menambahkan, hibriditas sebagai ciri produksi dan konsumsi budaya. Media baru menggiring efek terduga menjadi efek tidak terduga. "Jika ingin menduniakan budaya, sebut saja wayang, gunakan teknologi dan kekuatan komunikasi," kata Sulhan.
Menghadapi sirkuit budaya, dibutuhkan kemampuan memahami dan mengelola budaya supaya bisa diterima banyak orang. Budaya menjadi salah satu kunci untuk menyelenggarakan kehidupan yang lebih baik. Menurut Sam Abede Pareno, guru besar dari FISIP Untag Surabaya, kuncinya adalah konsolidasi. Demikian juga yang disampaikan Setya Yuwana Sudikan, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Jawa Timur dan guru besar Universitas Negeri Surabaya. Ia menuturkan, UU Kemajuan Kebudayaan bersifat instrumental. Itu sebabnya, diperlukan pemikiran panjang agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan. "Budaya adalah cara memahami lingkungan dan bagaimana menjadi bahagia," katanya. Sulhan menutup dengan penawaran menggunakan kekuatan komunikasi menguatkan budaya sekaligus membuat budaya Indonesia menjadi lebih dikenal di tingkat dunia.
Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Seminar Nasional Komunikasi, Literasi Media dan Budaya di Untag Surabaya, Ini 4 Pembicara Utamanya, https://surabaya.tribunnews.com/2019/11/28/seminar-nasional-komunikasi-literasi-media-dan-budaya-di-untag-surabaya-ini-4-pembicara-utamanya?page=2.
Penulis: Endah Imawati
Editor: Titis Jati Permata