Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Mar
Mahasiswa Ilmu
Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya membuat program Mikotag
Berkarya, sebuah program kolaborasi kreatif yang menggandeng UMKM Rumah Batik
Suramadu di Jl. Dukuh Bulak Banteng Timur No. 94, Surabaya. Kegiatan yang
berlangsung pada 29 November 2025 ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk
menerapkan ilmu komunikasi secara langsung melalui aksi nyata, sekaligus
mendukung pelestarian budaya batik di Jawa Timur.
Program ini melibatkan
mahasiswa lintas semester mulai dari semester 1, 3, 5, hingga 7. Dengan tema “Wariskan
Budaya, Goreskan Karya”, kegiatan ini juga menghadirkan dua talent
berprestasi, yakni Moch Yoga Pratama, Putra Batik Jawa Timur 2025, serta Ika
Putri Lestari, Putri Batik Jawa Timur 2024. Kehadiran keduanya menjadi simbol
dukungan generasi muda terhadap pentingnya memajukan batik ke tingkat nasional
dan internasional.
Rumah Batik Suramadu,
yang berdiri sejak 2008 dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur H. Imam Utomo,
menjadi lokasi utama kegiatan. UMKM ini dikelola oleh Syarif Usman, seorang
keturunan pembatik asal Pamekasan, Madura, yang telah meneruskan tradisi membatik
dari keluarganya. Di bawah pengelolaannya, Batik Suramadu pernah mencatat
prestasi Rekor MURI melalui karya membatik berukuran 20 x 10 meter. Saat ini
Batik Suramadu juga menjadi salah satu UMKM binaan Pemerintah Kota Surabaya.
Dalam sesi wawancara,
Syarif Usman menyampaikan rasa bangganya terhadap inisiatif mahasiswa UNTAG. Ia
berharap kolaborasi seperti ini dapat membantu memperluas eksposur batik,
terutama di kalangan generasi muda. Ia juga menekankan bahwa edukasi mengenai proses
membatik perlu terus dilakukan agar masyarakat memahami bahwa batik merupakan
karya budaya yang membutuhkan ketekunan dan proses panjang.
Salah satu mahasiswa
penyelenggara, Safira Nurai Putri dari semester 7, menjelaskan bahwa pemilihan
UMKM ini didasarkan pada struktur usaha yang sudah kuat, produk yang jelas,
serta rekam jejak yang memadai. Meski demikian, dari sisi branding, UMKM ini masih
memerlukan dukungan untuk menjangkau publik yang lebih luas. Mikotag Berkarya
hadir sebagai upaya mahasiswa untuk membantu mengangkat kembali citra UMKM
tersebut setelah mengalami penurunan selama pandemi.
Safira juga
menambahkan bahwa tantangan terbesar dalam penyelenggaraan acara ini adalah
koordinasi lintas semester. Perbedaan ide, bidang keahlian, serta jadwal kuliah
membuat mahasiswa perlu menerapkan sistem komunikasi satu pintu. Kendati
sebagian besar dilakukan secara online, proses koordinasi tetap berjalan baik
karena setiap kelompok dapat saling melengkapi. Menurutnya, kegiatan ini bukan
hanya tentang membantu UMKM, tetapi juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa
untuk merasakan penerapan ilmu secara langsung.
Melalui Mikotag
Berkarya, mahasiswa UNTAG membuktikan bahwa ilmu komunikasi dapat menjadi
sarana untuk memberdayakan UMKM lokal dan melestarikan budaya. Program ini
menunjukkan bagaimana kolaborasi antara mahasiswa dan pelaku usaha dapat
menciptakan dampak nyata bagi masyarakat, sekaligus menjadi wadah pengembangan
keterampilan profesional bagi generasi muda. (Moch Dzikry Nur Alam)