06

Apr

Chopper dan Dramaturgi: Dokter di Balik Stigma Monster

Bulan Maret akan menghadirkan serial adaptasi live action dari anime populer, yaitu One Piece Live Action Season 2. Musim kedua film One Piece ini akan terdiri dari delapan episode. Dalam musim ini, salah satu kru baru Bajak Laut Topi Jerami akan bergabung dengan Luffy, dengan latar cerita yang unik tentang dirinya.

 

Karakter baru kru bajak laut Luffy tersebut adalah Tony Tony Chopper, yang sangat unik. Awalnya, ia hanyalah seekor rusa kutub biasa, tetapi hidupnya berubah total setelah memakan Buah Iblis. Kini, ia bisa berubah wujud dan yang paling penting, ia bisa berbicara seperti manusia! Wujud manusianya, yang disebut Heavy Point, membuatnya berubah menjadi besar dan kekar. Bahkan, karena ukurannya yang besar itu, dulu di kampung halamannya banyak orang mengira ia adalah manusia salju.

 

Namun jangan salah, meskipun fisiknya bisa sekuat manusia salju legendaris, hati Chopper tetaplah lembut. Keahlian utamanya bukan hanya bertarung, tetapi juga sebagai dokter. Ia sangat pintar dalam hal pengobatan dan selalu berusaha menyelamatkan teman-temannya. Di Topi Jerami, Chopper adalah dokter andalan yang setia dan baik hati.

 

Kita sebagai penggemar One Piece bisa belajar dari Chopper bahwa meskipun semua orang pernah berbuat jahat kepadamu, janganlah membalas kejahatan itu, melainkan balaslah dengan kebaikan. Itulah sosok dokter sesungguhnya. Dalam teori komunikasi, hal ini bisa dilihat melalui konsep dramaturgi. Teori dramaturgi adalah cara pandang yang menganggap interaksi sosial seperti pertunjukan teater, di mana manusia memainkan peran tertentu di depan publik. Teori Dramaturgi sudah ada sejak tahun 1949 dicetuskan oleh Erving Goffman. Teori dramaturgi dalam One Piece ini menggambarkan bagaimana Chopper memainkan peran sebagai seorang dokter, meskipun sosok yang dilihat orang lain adalah monster atau Yeti.

 

Ada sebuah pepatah terkenal: "Jangan menilai buku dari sampulnya." Artinya, kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari penampilan fisiknya, melainkan dari tindakannya. Seperti halnya Chopper, kita sering melihat seseorang yang secara fisik tidak tampak seperti seorang dokter, tapi kita harus menilai bahwa ia adalah dokter melalui perbuatan dan dedikasinya.

(Pramodya)