Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Mar
Surabaya kembali
menjadi pusat pertemuan para praktisi, akademisi, dan mahasiswa kehumasan
melalui gelaran Surabaya’s Public Relations Jamboree atau SPRJ 2025. Acara ini
menjadi bagian dari rangkaian Konvensi Humas Indonesia Surabaya 2025 yang
diinisiasi oleh Perhumas Indonesia. Mengusung tema Peluang Kolaboratif di Dunia
Perhumasan, SPRJ menghadirkan ruang dialog yang membahas tantangan, inovasi,
hingga arah kolaborasi masa depan yang dibutuhkan profesi humas pada era
digital saat ini. Kehadiran acara ini juga menegaskan komitmen Indonesia Bicara
Baik sebagai visi utama Perhumas untuk membangun ekosistem komunikasi yang
positif dan berdaya saing global.
Talkshow interaktif
ini menghadirkan empat narasumber yang berpengalaman di bidangnya, yaitu Aqsath
Rasyid selaku CEO NoLimit Indonesia, Indriani Siswati sebagai Deputy Head of
Corporate Communications PT Merdeka Copper Gold Tbk, Try Desladry sebagai Assistant
Vice President of Media di PT Petrokimia Gresik, dan Zainal yang turut mengisi
perspektif mengenai dinamika humas di lapangan. Acara dipandu oleh moderator
Yusi Nisa yang menjaga alur diskusi tetap hidup dan relevan bagi peserta yang
hadir dari berbagai lembaga pendidikan dan industri.
Dalam pemaparannya,
Aqsath Rasyid menekankan bahwa profesi humas modern tidak dapat dilepaskan dari
kemampuan membaca data. Menurutnya, big data memberikan peluang besar bagi
humas untuk memahami dinamika percakapan publik secara lebih akurat. Aqsath mencontohkan
Jakarta Command Center sebagai ilustrasi bagaimana teknologi data dapat
membantu institusi memantau isu, mengelola informasi, dan merespons kebutuhan
masyarakat secara cepat. Ia menyampaikan bahwa kemampuan ini kini menjadi
kompetensi dasar yang harus dimiliki setiap praktisi humas agar mampu bersaing
dalam lanskap profesional yang semakin kompleks.
Selain itu, para
narasumber juga menguraikan tiga tantangan utama yang sedang mengubah wajah
kehumasan di Indonesia. Generation shift menjadi faktor yang mengharuskan humas
memahami karakteristik setiap generasi audiens dan menyesuaikan strategi
komunikasi. Media shift menggambarkan perubahan besar dalam pola konsumsi
informasi masyarakat yang kini bergerak cepat melalui platform digital.
Sementara complain shift menunjukkan bagaimana masyarakat menyampaikan keluhan
secara real time melalui media sosial sehingga menuntut humas untuk responsif,
transparan, dan adaptif. Ketiga tantangan ini menuntut kolaborasi yang lebih
kuat antara institusi, praktisi, dan pemangku kepentingan lainnya.
Indriani Siswati
menambahkan bahwa kolaborasi antarsektor sangat penting untuk menjaga
kredibilitas informasi dan memperluas jangkauan komunikasi yang berdampak. Try
Desladry turut menekankan pentingnya membangun jaringan profesional yang solid
agar humas dapat saling menguatkan dalam menghadapi isu publik yang semakin
beragam. Penjelasan narasumber memberikan gambaran menyeluruh mengenai
kebutuhan kompetensi baru yang harus disiapkan oleh generasi muda, terutama
mahasiswa kehumasan yang kelak akan memasuki industri.
SPRJ 2025 juga menjadi
momentum bagi Perhumas untuk menegaskan kembali tujuan besar Konvensi Humas
Indonesia, yaitu membangun masa depan Indonesia yang baik melalui komunikasi
yang kredibel dan kolaboratif. Melalui forum seperti ini, mahasiswa dapat memahami
peran strategis humas dalam menciptakan narasi positif bagi bangsa, sekaligus
melihat peluang pengembangan karier yang relevan dengan kebutuhan industri.
Kehadiran praktisi dari berbagai sektor memperkaya wawasan peserta dan
memperkuat ekosistem komunikasi yang lebih inklusif.
Mahasiswa program
studi Ilmu Komunikasi Untag Surabaya turut menghadiri kegiatan SPRJ 2025
sebagai undangan dari perhumas. Kolaborasi yang dilakukan oleh Prodi Ilmu
Komunikasi dengan Perhumas menghadirkan insight bagi mahasiswa prodi
ilmu komunikasi tentang dunia humas di Indonesia khususnya tantangan yang
dihadapi dan membuka wawasan mahasiswa tentang praktik di dunia humas.
Acara ini tidak hanya
menjadi wadah berbagi pengetahuan tetapi juga ruang bertemunya aspirasi
generasi muda humas. Dengan meningkatnya kebutuhan akan humas yang mampu
menguasai teknologi data, memahami perubahan sosial, dan membangun kolaborasi
lintas sektor, SPRJ 2025 menjadi langkah penting dalam mempersiapkan masa depan
profesi kehumasan Indonesia. (Moch Dzikry Nur Alam)