11

Mar

Kolaborasi dengan Asosiasi Perhumas: Hadirkan Dialog Kolaboratif untuk Masa Depan

Surabaya kembali menjadi pusat pertemuan para praktisi, akademisi, dan mahasiswa kehumasan melalui gelaran Surabaya’s Public Relations Jamboree atau SPRJ 2025. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Konvensi Humas Indonesia Surabaya 2025 yang diinisiasi oleh Perhumas Indonesia. Mengusung tema Peluang Kolaboratif di Dunia Perhumasan, SPRJ menghadirkan ruang dialog yang membahas tantangan, inovasi, hingga arah kolaborasi masa depan yang dibutuhkan profesi humas pada era digital saat ini. Kehadiran acara ini juga menegaskan komitmen Indonesia Bicara Baik sebagai visi utama Perhumas untuk membangun ekosistem komunikasi yang positif dan berdaya saing global.

Talkshow interaktif ini menghadirkan empat narasumber yang berpengalaman di bidangnya, yaitu Aqsath Rasyid selaku CEO NoLimit Indonesia, Indriani Siswati sebagai Deputy Head of Corporate Communications PT Merdeka Copper Gold Tbk, Try Desladry sebagai Assistant Vice President of Media di PT Petrokimia Gresik, dan Zainal yang turut mengisi perspektif mengenai dinamika humas di lapangan. Acara dipandu oleh moderator Yusi Nisa yang menjaga alur diskusi tetap hidup dan relevan bagi peserta yang hadir dari berbagai lembaga pendidikan dan industri.

Dalam pemaparannya, Aqsath Rasyid menekankan bahwa profesi humas modern tidak dapat dilepaskan dari kemampuan membaca data. Menurutnya, big data memberikan peluang besar bagi humas untuk memahami dinamika percakapan publik secara lebih akurat. Aqsath mencontohkan Jakarta Command Center sebagai ilustrasi bagaimana teknologi data dapat membantu institusi memantau isu, mengelola informasi, dan merespons kebutuhan masyarakat secara cepat. Ia menyampaikan bahwa kemampuan ini kini menjadi kompetensi dasar yang harus dimiliki setiap praktisi humas agar mampu bersaing dalam lanskap profesional yang semakin kompleks.

Selain itu, para narasumber juga menguraikan tiga tantangan utama yang sedang mengubah wajah kehumasan di Indonesia. Generation shift menjadi faktor yang mengharuskan humas memahami karakteristik setiap generasi audiens dan menyesuaikan strategi komunikasi. Media shift menggambarkan perubahan besar dalam pola konsumsi informasi masyarakat yang kini bergerak cepat melalui platform digital. Sementara complain shift menunjukkan bagaimana masyarakat menyampaikan keluhan secara real time melalui media sosial sehingga menuntut humas untuk responsif, transparan, dan adaptif. Ketiga tantangan ini menuntut kolaborasi yang lebih kuat antara institusi, praktisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Indriani Siswati menambahkan bahwa kolaborasi antarsektor sangat penting untuk menjaga kredibilitas informasi dan memperluas jangkauan komunikasi yang berdampak. Try Desladry turut menekankan pentingnya membangun jaringan profesional yang solid agar humas dapat saling menguatkan dalam menghadapi isu publik yang semakin beragam. Penjelasan narasumber memberikan gambaran menyeluruh mengenai kebutuhan kompetensi baru yang harus disiapkan oleh generasi muda, terutama mahasiswa kehumasan yang kelak akan memasuki industri.

SPRJ 2025 juga menjadi momentum bagi Perhumas untuk menegaskan kembali tujuan besar Konvensi Humas Indonesia, yaitu membangun masa depan Indonesia yang baik melalui komunikasi yang kredibel dan kolaboratif. Melalui forum seperti ini, mahasiswa dapat memahami peran strategis humas dalam menciptakan narasi positif bagi bangsa, sekaligus melihat peluang pengembangan karier yang relevan dengan kebutuhan industri. Kehadiran praktisi dari berbagai sektor memperkaya wawasan peserta dan memperkuat ekosistem komunikasi yang lebih inklusif.

Mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Untag Surabaya turut menghadiri kegiatan SPRJ 2025 sebagai undangan dari perhumas. Kolaborasi yang dilakukan oleh Prodi Ilmu Komunikasi dengan Perhumas menghadirkan insight bagi mahasiswa prodi ilmu komunikasi tentang dunia humas di Indonesia khususnya tantangan yang dihadapi dan membuka wawasan mahasiswa tentang praktik di dunia humas.

Acara ini tidak hanya menjadi wadah berbagi pengetahuan tetapi juga ruang bertemunya aspirasi generasi muda humas. Dengan meningkatnya kebutuhan akan humas yang mampu menguasai teknologi data, memahami perubahan sosial, dan membangun kolaborasi lintas sektor, SPRJ 2025 menjadi langkah penting dalam mempersiapkan masa depan profesi kehumasan Indonesia. (Moch Dzikry Nur Alam)