26

Feb

Curhat Bebas di Timeline? Tunggu Dulu, Dampaknya Bisa Bikin kamu Nyesel!

Media sosial telah menjadi komponen penting pada zaman perkembangan teknologi saat ini. Platform digital bukan hanya tempat untuk berbagi data tetapi juga merupakan tempat untuk mengungkapkan perasaan, kisah pribadi, dan masalah sehari-hari. Namun, fenomena oversharing yang mulai berdampak nyata pada kehidupan keseharian yang mulai muncul sebagai akibat dari kebiasaan curhat online yang berlebihan.

Kebanyakan individu tanpa disadari memberikan informasi pribadi seperti lokasi, rutinitas, dan perasaan ke ruang publik dalam lingkungan digital yang serba terbuka. Jejak digital yang ditinggalkan bertahan lama dan dapat diakses oleh siapa saja, tetapi pengulangan ini biasanya dianggap sebagai bentuk ekspresi diri. Dalam keadaan seperti ini, perbedaan antara ruang pribadi dan publik semakin tidak jelas. Oversharing biasanya dipicu oleh keinginan untuk memenuhi pengakuan sosial.

 Di dunia pertemanan digital, penerimaan sering ditunjukkan dengan tanggapan dalam bentuk seperti like, komentar, dan share. Algoritma media sosial mendorong pengguna untuk membagikan konten secara aktif agar tetap relevan di linimasa, yang meningkatkan dorongan tersebut Itu tidak hanya dirasakan di internet.

Akibat informasi pribadi yang terlanjur tersebar, sebagian orang mulai mengalami gangguan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari. Konsekuensi yang tidak dapat diabaikan termasuk risiko penyalahgunaan data serta tekanan psikologis yang dapat memicu terjadinya konflik baru. Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya bagi siswa untuk menjaga standar komunikasi digital.

Kemampuan untuk menggunakan media sosial harus diimbangi dengan kesadaran akan kewajiban komunikasi di ruang publik digital. Disarankan agar lebih cerdas dalam memilih informasi yang layak dibagikan dan menyadari bahwa tidak semua hal perlu diungkapkan di media sosial.

Diharapkan kedepannya dapat menumbuhkan kebiasaan komunikasi digital yang sehat ditengah banyaknya fenomena budaya curhat online. Media sosial seharusnya menjadi tempat yang produktif dan aman, bukan sumber masalah yang memengaruhi kehidupan nyata. Agar kebebasan berekspresi tidak mengarah pada risiko yang merugikan diri sendiri, penting untuk mengetahui etika dan batas privasi. (Farisya Auliya)