Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Feb
Media sosial telah menjadi komponen penting pada
zaman perkembangan teknologi saat ini. Platform digital bukan hanya tempat
untuk berbagi data tetapi juga merupakan tempat untuk mengungkapkan perasaan,
kisah pribadi, dan masalah sehari-hari. Namun, fenomena oversharing yang mulai
berdampak nyata pada kehidupan keseharian yang mulai muncul sebagai akibat dari
kebiasaan curhat online yang berlebihan.
Kebanyakan individu tanpa
disadari memberikan informasi pribadi seperti lokasi, rutinitas, dan perasaan
ke ruang publik dalam lingkungan digital yang serba terbuka. Jejak digital yang
ditinggalkan bertahan lama dan dapat diakses oleh siapa saja, tetapi pengulangan
ini biasanya dianggap sebagai bentuk ekspresi diri. Dalam keadaan seperti ini,
perbedaan antara ruang pribadi dan publik semakin tidak jelas. Oversharing
biasanya dipicu oleh keinginan untuk memenuhi pengakuan sosial.
Di dunia pertemanan digital, penerimaan sering
ditunjukkan dengan tanggapan dalam bentuk seperti like, komentar, dan share.
Algoritma media sosial mendorong pengguna untuk membagikan konten secara aktif
agar tetap relevan di linimasa, yang meningkatkan dorongan tersebut Itu tidak
hanya dirasakan di internet.
Akibat informasi pribadi
yang terlanjur tersebar, sebagian orang mulai mengalami gangguan kenyamanan
dalam kehidupan sehari-hari. Konsekuensi yang tidak dapat diabaikan termasuk
risiko penyalahgunaan data serta tekanan psikologis yang dapat memicu terjadinya
konflik baru. Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya bagi siswa untuk
menjaga standar komunikasi digital.
Kemampuan untuk
menggunakan media sosial harus diimbangi dengan kesadaran akan kewajiban
komunikasi di ruang publik digital. Disarankan agar lebih cerdas dalam memilih
informasi yang layak dibagikan dan menyadari bahwa tidak semua hal perlu
diungkapkan di media sosial.
Diharapkan kedepannya
dapat menumbuhkan kebiasaan komunikasi digital yang sehat ditengah banyaknya
fenomena budaya curhat online. Media sosial seharusnya menjadi tempat yang
produktif dan aman, bukan sumber masalah yang memengaruhi kehidupan nyata. Agar
kebebasan berekspresi tidak mengarah pada risiko yang merugikan diri sendiri,
penting untuk mengetahui etika dan batas privasi. (Farisya Auliya)