Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Apr
Prodi
Ilmu Komunikasi mengundang Yunita Anggreswari, S.I.Kom., M.Med.Kom., selaku
Kaprodi Ilmu Komunikasi Undiknas Bali sebagai narasumber. Beliau hadir dalam
acara bedah film The Greatest Showman (2017) pada tanggal 13 April 2026.
Beliau melakukan analisis terhadap film The Greatest Showman yang
berkaitan dengan diskriminasi sosial berada di Universitas 17 Agustus 1945 pada
pukul 09.00 hingga selesai di Auditorium lantai 6.
Film The Greatest Showman (2017) adalah film musikal yang menceritakan
tentang perkumpulan orang-orang unik atau berbeda dengan lainnya. Mereka
berkumpul untuk melakukan pertunjukan di sirkus. Film tersebut terlalu
menonjolkan tentang diskriminasi sosial, adanya standar "fisik" yang
ditetapkan oleh lingkungan. Karakter dalam grup yang dibuat oleh Barnum ada
yang bertubuh tinggi, perempuan tetapi memiliki jenggot, dan lain-lain.
Itulah yang dibuat oleh kelas elite. Kelas elite menggambarkan
perbedaan kelas sosial dalam masyarakat. Kelompok marginal adalah kelompok
dalam masyarakat yang tersisihkan, kurang diperhatikan, atau sulit mengakses
hak-hak dasar karena perbedaan yang mereka miliki. Sehingga terjadi penolakan
terhadap perbedaan, yaitu bagaimana stereotipe mempengaruhi perilaku
masyarakat.
Dan juga ada stigma sosial, yaitu pandangan negatif atau label buruk
yang dilekatkan masyarakat kepada seseorang atau kelompok karena dianggap
berbeda dari kebanyakan orang. Dalam film The Greatest Showman, para pemain
sirkus Barnum (wanita berjanggut, pria pendek, dll.) mengalami stigma sosial
sehingga mereka bersembunyi dan malu. Lagu "This Is Me" adalah bentuk
melawan stigma dengan bangga menunjukkan identitas diri.
Dari analisis yang disampaikan oleh Yunita Anggreswari dalam acara
pembedahan film The Greatest Showman di Universitas 17 Agustus 1945, tersirat
pesan mendalam bahwa pada hakikatnya semua orang dilahirkan sama. Perbedaan
fisik, latar belakang, atau kondisi tubuh bukanlah alasan untuk mengucilkan,
menstigma, atau membedakan hak seseorang. Diskriminasi sosial terjadi karena
adanya standar semu yang diciptakan oleh kelas elite dan stereotipe masyarakat.
Padahal, seperti yang ditunjukkan oleh para pemain sirkus Barnum, keberagaman
justru menjadi kekuatan ketika diterima dengan lapang dada. Lagu "This Is
Me" mengajarkan bahwa harga diri tidak ditentukan oleh penilaian orang
lain. Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat membuang pandangan diskriminatif
dan mulai mengakui bahwa semua manusia setara, berhak dihormati, dan berhak
tampil bebas tanpa rasa malu. Tidak ada lagi kelompok marginal, yang ada
hanyalah keberagaman yang saling melengkapi.