26

Feb

Algoritma Menentukan Bahagia? Cara Media Sosial Mengubah Makna Healing

Liburan biasanya dianggap sebagai waktu healing bagi sebagian masyarakat setelah melewati rutinitas akademik yang padat. Namun, liburan sekarang bukan lebih dari sekedar liburan tetapi sekarang merupakan cara untuk menikmati kesenangan secara digital. Fenomena ini semakin terasa ketika unggahan liburan di media sosial sering menampilkan gambar yang menggembirakan, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya yang berbanding terbalik sesuai fakta berdasarkan postingan di media sosial.

 

Pengguna yang aktif menggunakan media sosial, terutama selama liburan, sering mengalami hal ini. Platform seperti Instagram, TikTok, dan X penuh dengan foto perjalanan ke pantai, gunung, dan kafe cantik. Liburan yang dulunya bersifat pribadi sekarang menjadi tontonan umum yang penuh dengan gambar yang dipotret secara sempurna.

 

Realita ini muncul di tengah budaya digital yang menganggap media sosial sebagai tempat untuk ekspresi dan pertumbuhan persepsi. Banyak yang mengatakan serta merasakan dengan adanya suatu perasaan yang "tertinggal" atau tidak bahagia ketika melihat unggahan liburan teman-teman yang diposting di sosial media. Meskipun demikian, gambar liburan yang diposting di media sosial seringkali hanyalah bagian terbaik dari peristiwa, bukan seluruh pengalaman.

 

Liburan yang seharusnya digunakan untuk pemulihan, justru digunakan untuk bersaing dengan orang lain. Sebagian diri masing-masing individu terlalu sibuk memikirkan konten, sudut foto terbaik, dan caption yang menarik daripada benar-benar menikmati perjalanan. Istilah "halusinasi bahagia” dari kebahagiaan semu yang dihasilkan dari konten media sosial yang diciptakan oleh keinginan untuk terlihat bahagia.

 

Fenomena ini memiliki efek psikologis yang dirasakan akibat dampak melalui konten visual sosial media. Hal ini dapat mempengaruhi cara pandang individu menafsirkan liburan. Ekspektasi sosial yang tidak realistis dan pengobatan yang seharusnya menenangkan justru dapat menyebabkan stres baru.

 

Dalam hal ini, media sosial sangat berperan dalam membentuk standar kebahagiaan yang konsisten dan idealis. Pengaruh kuat komunikasi visual dan likes budaya di media sosial menyebabkan fenomena ini terjadi dalam melihat sudut pandang bahwa Liburan harus selalu menyenangkan dan bebas masalah berdasarkan algoritma platform yang mengutamakan konten visual yang menarik. Akibatnya, fakta yang tidak sejalan dengan gambaran sering diabaikan.

 

Diharapkan sebagai individu akan menjadi lebih cerdas dalam hal konsumsi dan penciptaan konten liburan sebagai akibat dari fenomena ini. Pengalaman dan pemulihan diri, bukan validasi digital, adalah inti dari liburan. Melainkan, media sosial dapat kembali menjadi tempat berbagi cerita, bukan sumber tekanan atau ilusi kebahagiaan. (Farisya Auliya)