Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Feb
Liburan biasanya dianggap sebagai waktu healing bagi sebagian
masyarakat setelah melewati rutinitas akademik yang padat. Namun, liburan
sekarang bukan lebih dari sekedar liburan tetapi sekarang merupakan cara untuk
menikmati kesenangan secara digital. Fenomena ini semakin terasa ketika
unggahan liburan di media sosial sering menampilkan gambar yang menggembirakan,
yang kadang-kadang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya yang berbanding
terbalik sesuai fakta berdasarkan postingan di media sosial.
Pengguna yang aktif menggunakan media sosial, terutama selama liburan,
sering mengalami hal ini. Platform seperti Instagram, TikTok, dan X penuh
dengan foto perjalanan ke pantai, gunung, dan kafe cantik. Liburan yang dulunya
bersifat pribadi sekarang menjadi tontonan umum yang penuh dengan gambar yang
dipotret secara sempurna.
Realita ini muncul di tengah budaya digital yang menganggap media
sosial sebagai tempat untuk ekspresi dan pertumbuhan persepsi. Banyak yang
mengatakan serta merasakan dengan adanya suatu perasaan yang
"tertinggal" atau tidak bahagia ketika melihat unggahan liburan
teman-teman yang diposting di sosial media. Meskipun demikian, gambar liburan
yang diposting di media sosial seringkali hanyalah bagian terbaik dari
peristiwa, bukan seluruh pengalaman.
Liburan yang seharusnya digunakan untuk pemulihan, justru digunakan
untuk bersaing dengan orang lain. Sebagian diri masing-masing individu terlalu
sibuk memikirkan konten, sudut foto terbaik, dan caption yang menarik daripada
benar-benar menikmati perjalanan. Istilah "halusinasi bahagia” dari
kebahagiaan semu yang dihasilkan dari konten media sosial yang diciptakan oleh
keinginan untuk terlihat bahagia.
Fenomena ini memiliki efek psikologis yang dirasakan akibat dampak
melalui konten visual sosial media. Hal ini dapat mempengaruhi cara pandang
individu menafsirkan liburan. Ekspektasi sosial yang tidak realistis dan
pengobatan yang seharusnya menenangkan justru dapat menyebabkan stres baru.
Dalam hal ini, media sosial sangat berperan dalam membentuk standar
kebahagiaan yang konsisten dan idealis. Pengaruh kuat komunikasi visual dan
likes budaya di media sosial menyebabkan fenomena ini terjadi dalam melihat
sudut pandang bahwa Liburan harus selalu menyenangkan dan bebas masalah
berdasarkan algoritma platform yang mengutamakan konten visual yang menarik.
Akibatnya, fakta yang tidak sejalan dengan gambaran sering diabaikan.
Diharapkan sebagai individu akan menjadi lebih cerdas dalam hal
konsumsi dan penciptaan konten liburan sebagai akibat dari fenomena ini.
Pengalaman dan pemulihan diri, bukan validasi digital, adalah inti dari
liburan. Melainkan, media sosial dapat kembali menjadi tempat berbagi cerita,
bukan sumber tekanan atau ilusi kebahagiaan. (Farisya Auliya)