Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Agust
Surabaya
– Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag)
Surabaya Ajang tahunan Young Active Communication Awards (YACA) 2025 kembali
sukses digelar dengan penuh semangat dan semarak. Menjadi ruang apresiasi bagi
mahasiswa Ilmu Komunikasi yang menonjol dalam berbagai bidang, YACA tahun ini
mengangkat tema besar: “Communication as Character, Creativity, and Community”.
Salah
satu nominasi paling bergengsi dan bermakna di antara semua kategori adalah
Sociable Student Award penghargaan yang diberikan kepada mahasiswa dengan
kemampuan komunikasi interpersonal yang sangat terbaik, karakter jiwa sosial
yang inklusif, serta pengaruh positif dalam membangun suasana harmonis di
lingkungan kampus. Nominasi tersebut adalah, yakni Chelsea Tiara Dwi Trisyana
(The Clevers) sebagai pemenang utama, disusul oleh Karina Achmad Yulianti
(D’iscoria) sebagai Runner Up, dan Meilani Eka Palonda (Riseracers) sebagai
Runner Up 2. Ketiganya hadir sebagai representasi generasi muda yang bukan
hanya aktif secara akademik, tetapi juga memiliki nilai sosial yang tinggi
dalam menjalin relasi, menyatukan tim, dan membangun komunikasi yang sehat.
Dalam
ajang tersebut, tiga sosok mahasiswa terpilih sebagai penerima penghargaan
untuk kategori ini karena dianggap mampu menyatukan, menggerakkan, dan
menciptakan ruang sosial yang hangat bagi rekan-rekan sebayanya. Mereka adalah
pribadi yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga ahli dalam mendengarkan
dan hadir secara emosional, mampu membuat suasana pertemanan menjadi sangat
hangat.
Chelsea
Tiara tampil gemilang sebagai pemenang Sociable Student Award tahun ini.
Perwakilan dari kelompok The Clevers ini dikenal sebagai pribadi yang terbuka,
ramah, dan menjadi penghubung emosional yang kuat dalam tim. Ia bukan hanya
piawai dalam menjalin komunikasi antaranggota kelompok, tetapi juga memiliki
naluri sosial tinggi untuk memahami kebutuhan emosional teman-temannya. Selama
proses kampanye, Chelsea menjadi penyeimbang di tengah tekanan yang
menghampiri. Saat semangat tim mulai goyah, ia hadir sebagai penguat ketika
ide-ide bertabrakan, ia menjadi penengah. Karakter komunikatifnya tidak
bersifat dominan, melainkan mengayomi dan menenangkan. Chelsea Tiara Dwi adalah
nyata bahwa menjadi sociable bukan
tentang menjadi pusat perhatian, tetapi tentang memberi perhatian dan terbuka
kepada semua orang.
Kemudian,
Karina Achmad Yulianti sebagai peraih posisi Runner Up dari tim D’iscoria,
menunjukkan kualitas sosial yang luar biasa. Ia tampil sebagai figur yang
berani menyuarakan pendapat sekaligus terbuka terhadap masukan. Karina bukan
hanya aktif menyemangati timnya, tetapi juga menjadi penggerak dalam dinamika
kerja kelompok yang penuh tantangan, Karina kerap menjadi penghubung antara
anggota yang memiliki perbedaan pendapat. Ia mampu membangun jembatan
komunikasi yang adil dan menciptakan ruang aman bagi semua suara. Kepekaannya
dalam membaca situasi menjadikan ia sangat dihormati oleh rekan-rekan satu tim.
Posisi
Runner Up 2 diraih oleh Meilani Eka Palonda dari tim Riseracers. Meilani
dikenal sebagai sosok yang tenang, lembut, namun punya daya jangkau sosial yang
luas. Ia sering terlibat dalam berbagai kegiatan kampus
dan menjalin relasi dengan banyak kalangan tanpa batas. Meilani bukan tipe yang
terlalu vokal dalam tim, namun pengaruhnya terasa dalam cara ia memperlakukan
orang lain dengan respek dan penuh empati. Ia menjadi tempat bercerita yang
nyaman bagi teman-temannya, dan kehadirannya sering kali menenangkan ketika
suasana kelompok sedang tidak stabil.
Gaya komunikasinya yang konsisten dan sikap inklusif
membuatnya dianggap sebagai panutan dalam komunikasi berbasis empati. Lewat
penghargaan ini, YACA mengingatkan bahwa kemampuan sosial adalah bagian dari
kecerdasan komunikasi. Dalam dunia yang semakin digital dan individualistik,
hadirnya figure – fiigur generasi muda dan Gen z seperti Chelsea, Karina, dan
Meilani menjadi acuan dan sangat berpengaruh banyak, selain itu, mereka yang
tak hanya tampil, tapi juga hadir bukan hanya didengar, tapi juga mendengarkan.
YACA 2025 tidak hanya memberikan penghargaan, tetapi juga membentuk budaya
apresiasi terhadap empati, kebersamaan, dan komunikasi yang membangun. ( Revalani Septania ).