22

Agust

YACA 2025 Apresiasi Sosok Mahasiswa Melalui Sociable Student Award

Surabaya – Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Ajang tahunan Young Active Communication Awards (YACA) 2025 kembali sukses digelar dengan penuh semangat dan semarak. Menjadi ruang apresiasi bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi yang menonjol dalam berbagai bidang, YACA tahun ini mengangkat tema besar: “Communication as Character, Creativity, and Community”.

Salah satu nominasi paling bergengsi dan bermakna di antara semua kategori adalah Sociable Student Award penghargaan yang diberikan kepada mahasiswa dengan kemampuan komunikasi interpersonal yang sangat terbaik, karakter jiwa sosial yang inklusif, serta pengaruh positif dalam membangun suasana harmonis di lingkungan kampus. Nominasi tersebut adalah, yakni Chelsea Tiara Dwi Trisyana (The Clevers) sebagai pemenang utama, disusul oleh Karina Achmad Yulianti (D’iscoria) sebagai Runner Up, dan Meilani Eka Palonda (Riseracers) sebagai Runner Up 2. Ketiganya hadir sebagai representasi generasi muda yang bukan hanya aktif secara akademik, tetapi juga memiliki nilai sosial yang tinggi dalam menjalin relasi, menyatukan tim, dan membangun komunikasi yang sehat.

Dalam ajang tersebut, tiga sosok mahasiswa terpilih sebagai penerima penghargaan untuk kategori ini karena dianggap mampu menyatukan, menggerakkan, dan menciptakan ruang sosial yang hangat bagi rekan-rekan sebayanya. Mereka adalah pribadi yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga ahli dalam mendengarkan dan hadir secara emosional, mampu membuat suasana pertemanan menjadi sangat hangat.

Chelsea Tiara tampil gemilang sebagai pemenang Sociable Student Award tahun ini. Perwakilan dari kelompok The Clevers ini dikenal sebagai pribadi yang terbuka, ramah, dan menjadi penghubung emosional yang kuat dalam tim. Ia bukan hanya piawai dalam menjalin komunikasi antaranggota kelompok, tetapi juga memiliki naluri sosial tinggi untuk memahami kebutuhan emosional teman-temannya. Selama proses kampanye, Chelsea menjadi penyeimbang di tengah tekanan yang menghampiri. Saat semangat tim mulai goyah, ia hadir sebagai penguat ketika ide-ide bertabrakan, ia menjadi penengah. Karakter komunikatifnya tidak bersifat dominan, melainkan mengayomi dan menenangkan. Chelsea Tiara Dwi adalah nyata bahwa menjadi sociable bukan tentang menjadi pusat perhatian, tetapi tentang memberi perhatian dan terbuka kepada semua orang.

Kemudian, Karina Achmad Yulianti sebagai peraih posisi Runner Up dari tim D’iscoria, menunjukkan kualitas sosial yang luar biasa. Ia tampil sebagai figur yang berani menyuarakan pendapat sekaligus terbuka terhadap masukan. Karina bukan hanya aktif menyemangati timnya, tetapi juga menjadi penggerak dalam dinamika kerja kelompok yang penuh tantangan, Karina kerap menjadi penghubung antara anggota yang memiliki perbedaan pendapat. Ia mampu membangun jembatan komunikasi yang adil dan menciptakan ruang aman bagi semua suara. Kepekaannya dalam membaca situasi menjadikan ia sangat dihormati oleh rekan-rekan satu tim.

Posisi Runner Up 2 diraih oleh Meilani Eka Palonda dari tim Riseracers. Meilani dikenal sebagai sosok yang tenang, lembut, namun punya daya jangkau sosial yang luas. Ia sering terlibat dalam berbagai kegiatan kampus dan menjalin relasi dengan banyak kalangan tanpa batas. Meilani bukan tipe yang terlalu vokal dalam tim, namun pengaruhnya terasa dalam cara ia memperlakukan orang lain dengan respek dan penuh empati. Ia menjadi tempat bercerita yang nyaman bagi teman-temannya, dan kehadirannya sering kali menenangkan ketika suasana kelompok sedang tidak stabil.

Gaya komunikasinya yang konsisten dan sikap inklusif membuatnya dianggap sebagai panutan dalam komunikasi berbasis empati. Lewat penghargaan ini, YACA mengingatkan bahwa kemampuan sosial adalah bagian dari kecerdasan komunikasi. Dalam dunia yang semakin digital dan individualistik, hadirnya figure – fiigur generasi muda dan Gen z seperti Chelsea, Karina, dan Meilani menjadi acuan dan sangat berpengaruh banyak, selain itu, mereka yang tak hanya tampil, tapi juga hadir bukan hanya didengar, tapi juga mendengarkan. YACA 2025 tidak hanya memberikan penghargaan, tetapi juga membentuk budaya apresiasi terhadap empati, kebersamaan, dan komunikasi yang membangun. ( Revalani Septania ).