04

Mar

Kenapa Kita Sulit Bilang Tidak? Membaca Fenomena People Pleaser Dalam Perspektif Komunikasi

Fenomena people pleaser semakin menjadi perhatian utama dalam kehidupan sosial kontemporer dan menjadi masalah penting dalam studi ilmu komunikasi. Istilah ini mengacu pada cara seseorang selalu berusaha menyenangkan orang lain, menghindari konflik, dan mengorbankan kepentingan pribadi mereka untuk menjaga hubungan tetap harmonis.

 

Menurut perspektif komunikasi, interaksi ini dinilai hanya merujuk berdasarkan sikap empati saja, sehingga proses pertukaran pesan menjadi tidak seimbang. Seseorang  yang lebih mementingkan perasaan orang lain dibanding dirinya cenderung menyesuaikan pesan mereka dengan apa yang diharapkan oleh lawan bicara  dalam interaksi komunikasi interpersonal.

 

Seseorang akan lebih memilih respons yang aman, menghindari perbedaan pendapat, dan sulit untuk menolak. Akibatnya, komunikasi berubah menjadi cara untuk mempertahankan penerimaan sosial daripada hanya tempat untuk bertukar makna. Seringkali, pesan yang disampaikan tidak mewakili pikiran dan perasaan seseorang yang sebenarnya.

 

Dalam hubungan keluarga, organisasi, dan lingkungan kerja, perilaku ini kerap sekali muncul. Individu ini hanya diam tidak berkutik menyuarakan keberakatan pada dirinya dan hanya menyetujui keputusan atasan tanpa menentangnya yang terjadi di dalam komunikasi organisasi. Dalam situasi seperti ini, komunikasi hanya bersifat satu arah yang mendominasi proses komunikasi dan suara tertentu dianggap lebih penting daripada yang lain.

 

Dari perspektif komunikasi antarpribadi,  individu akan mengusahakan cara terkait dengan upaya untuk mempertahankan citra diri yang sudah dibangun. Maka dari itu individu tersebut, berusaha memegang teguh kesan positif dengan menghindari tindakan yang dapat mengganggu keharmonisan interaksi. Ketakutan akan konflik dan penolakan membuat mereka memilih untuk tetap diam atau mengalah meskipun kebutuhan pribadi mereka bertentangan. Pola ini dapat menyebabkan tekanan emosional yang tidak terungkap dalam jangka panjang.

 

Fenomena people pleaser juga diperkuat oleh media digital. Jika ruang komunikasi dipenuhi dengan penilaian publik, orang cenderung menunjukkan sikap yang dapat diterima banyak pihak. Untuk menjaga relasi dan citra diri dengan berbagai macam strategi komunikasi termasuk respons cepat, komentar yang mendukung, dan penghindaran opini. Hal Ini menunjukkan dalam ilmu komunikasi bagaimana medium mempengaruhi cara pesan dibuat dan disampaikan.

 

Kualitas hubungan yang dibangun ditunjukkan oleh pola komunikasi ini. Permukaannya tampaknya hubungannya baik, tetapi perlahan akan rapuh karena tidak didasari oleh keterbukaan makna. Kesalahpahaman dan konflik tersembunyi berpotensi meningkat jika individu terus menekankan pendapat dan perasaan mereka. Kondisi ini disebut sebagai harmoni semu dalam ilmu komunikasi.

 

Untuk mengatasi fenomena people pleaser komunikasi yang asertif harus lebih diperkuat. Komunikasi asertif memungkinkan orang menyampaikan pesan mereka secara jelas tanpa mengganggu orang lain. Untuk menghasilkan interaksi yang setara, juga yang terpenting untuk memiliki lingkungan komunikasi yang terbuka dan menghargai perbedaan. Dengan komunikasi yang efektif, harmoni sosial dapat dicapai melalui pembicaraan yang bebas dan menghargai satu sama lain, bukan melalui pengorbanan individu. (Farisya Auliya)