Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Mar
Fenomena people pleaser semakin menjadi perhatian utama dalam kehidupan
sosial kontemporer dan menjadi masalah penting dalam studi ilmu komunikasi.
Istilah ini mengacu pada cara seseorang selalu berusaha menyenangkan orang
lain, menghindari konflik, dan mengorbankan kepentingan pribadi mereka untuk
menjaga hubungan tetap harmonis.
Menurut perspektif komunikasi, interaksi ini dinilai hanya merujuk
berdasarkan sikap empati saja, sehingga proses pertukaran pesan menjadi tidak
seimbang. Seseorang yang lebih
mementingkan perasaan orang lain dibanding dirinya cenderung menyesuaikan pesan
mereka dengan apa yang diharapkan oleh lawan bicara dalam interaksi komunikasi interpersonal.
Seseorang akan lebih memilih respons yang aman, menghindari perbedaan
pendapat, dan sulit untuk menolak. Akibatnya, komunikasi berubah menjadi cara
untuk mempertahankan penerimaan sosial daripada hanya tempat untuk bertukar
makna. Seringkali, pesan yang disampaikan tidak mewakili pikiran dan perasaan
seseorang yang sebenarnya.
Dalam hubungan keluarga, organisasi, dan lingkungan kerja, perilaku ini
kerap sekali muncul. Individu ini hanya diam tidak berkutik menyuarakan
keberakatan pada dirinya dan hanya menyetujui keputusan atasan tanpa
menentangnya yang terjadi di dalam komunikasi organisasi. Dalam situasi seperti
ini, komunikasi hanya bersifat satu arah yang mendominasi proses komunikasi dan
suara tertentu dianggap lebih penting daripada yang lain.
Dari perspektif komunikasi antarpribadi, individu akan mengusahakan cara terkait
dengan upaya untuk mempertahankan citra diri yang sudah dibangun. Maka dari itu
individu tersebut, berusaha memegang teguh kesan positif dengan menghindari
tindakan yang dapat mengganggu keharmonisan interaksi. Ketakutan akan konflik
dan penolakan membuat mereka memilih untuk tetap diam atau mengalah meskipun
kebutuhan pribadi mereka bertentangan. Pola ini dapat menyebabkan tekanan emosional
yang tidak terungkap dalam jangka panjang.
Fenomena people pleaser juga diperkuat oleh media digital. Jika ruang
komunikasi dipenuhi dengan penilaian publik, orang cenderung menunjukkan sikap
yang dapat diterima banyak pihak. Untuk menjaga relasi dan citra diri dengan
berbagai macam strategi komunikasi termasuk respons cepat, komentar yang
mendukung, dan penghindaran opini. Hal Ini menunjukkan dalam ilmu komunikasi
bagaimana medium mempengaruhi cara pesan dibuat dan disampaikan.
Kualitas hubungan yang dibangun ditunjukkan oleh pola komunikasi ini.
Permukaannya tampaknya hubungannya baik, tetapi perlahan akan rapuh karena
tidak didasari oleh keterbukaan makna. Kesalahpahaman dan konflik tersembunyi
berpotensi meningkat jika individu terus menekankan pendapat dan perasaan
mereka. Kondisi ini disebut sebagai harmoni semu dalam ilmu komunikasi.
Untuk mengatasi fenomena people pleaser komunikasi yang asertif harus
lebih diperkuat. Komunikasi asertif memungkinkan orang menyampaikan pesan
mereka secara jelas tanpa mengganggu orang lain. Untuk menghasilkan interaksi
yang setara, juga yang terpenting untuk memiliki lingkungan komunikasi yang
terbuka dan menghargai perbedaan. Dengan komunikasi yang efektif, harmoni
sosial dapat dicapai melalui pembicaraan yang bebas dan menghargai satu sama
lain, bukan melalui pengorbanan individu. (Farisya Auliya)