05

Jan

Kidulting: Bentuk Pelarian, Self-care, atau Cermin Tekanan Hidup?

Istilah “kidulting” ketika orang dewasa terlibat dalam aktivitas atau barang yang dianggap ”anak-anak” yang akhirnya menjadi perdebatan di antara dua pendapat yang berbeda. Di satu sisi, fenomena ini dianggap sebagai bentuk perawatan diri yang wajar. Di sisi lain, ada pandangan bahwa orang dewasa tersebut gagal menjadi ”dewasa”. Untuk generasi muda yang menghadapi tantangan finansial, tuntutan dalam karir, serta ketidakpastian masa depan, kidulting menjadi semakin relevan untuk diperbincangkan.

Fenomena kidulting sebenarnya tidak terjadi dalam ruang hampa. Banyak anak muda yang dibesarkan dengan budaya pop yang terus berlanjut bahkan hingga mereka beranjak dewasa. Perusahaan hiburan juga menggunakan nostalgia sebagai strategi pemasaran, sehingga garis pemisah antara ”hiburan anak-anak” dan ”hiburan orang dewasa” semakin samar. Keterlibatan dalam aktivitas tersebut kini tidak lagi dianggap aneh-melainkan menjadi hal yang wajar. Akan tetapi, pandangan masyarakat tentang kidulting tidak selalu positif. Ada anggapan bahwa menikmati mainan, cosplay, atau mendekorasi kamar dengan karakter lucu dapat dianggap sebagai perilaku immature (tidak dewasa).

Padahal, tidak ada ukuran mengenai cara orang dewasa seharusnya menikmati hidup. Sering kali kritik terhadap kidulting berakar dari pandangan tradisional tentang kedewasaan yang lebih berwujud pada sifat serius, kaku, dan selalu bertanggung jawab tanpa ruang bersenang-senang. Walaupun demikian, kidulting tidak lepas dari potensi masalah. Ketika dijadikan sebagai cara untuk melarikan diri yang berlebihan, contohnya dengan berbelanja impulsif untuk merchandise mahal atau menghabiskan waktu untuk menghindari kenyataan, kidulting bisa berujung pada isu baru yaitu tentang masalah keuangan, produktivitas yang menurun, bahkan gangguan kesehatan mental. Aktivitas yang seharusnya menyenangkan dapat berubah menjadi pengalih perhatian yang membuat isu yang benar-benar penting justru terabaikan. Oleh karena itu, mungkin diperlukan pendekatan yang lebih seimbang dan realistis.

kidulting tidak secara otomatis buruk atau baik karena fenomena ini hanyalah salah satu generasi muda beradaptasi dengan tekanan kehidupan modern. Di tengah situasi harga properti yang melambung tinggi, pekerjaan yang semakin tidak stabil, serta budaya kerja keras yang melelahkan, sangat wajar jika orang dewasa mencari tempat untuk bersantai demi menjaga kesehatan mental. Pada akhirnya, yang terpenting adalah menemukan keseimbangan. Menyukai lego, menonton kartun kesayangan, atau mengumpulkan figure favorit bukanlah bukti kegagalan dalam beranjak dewasa selagi masih bisa mengatur tanggung jawab yang lebih besar dalam kehidupan. Kidulting bukan tentang kembali ke masa kanak-kanak, melainkan menemukan momen-momen ringan yang membuat kehidupan dewasa lebih mudah dilalui. Jika aktivitas bermain dapat membantu kita bertahan di dunia yang semakin rumit, mungkin tidak ada salahnya untuk mempertahankan sedikit sisi anak-anak dalam diri kita. (Dian Aulia Rahmah)