Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jan
Istilah “kidulting” ketika orang dewasa terlibat dalam aktivitas
atau barang yang dianggap ”anak-anak” yang akhirnya menjadi perdebatan di
antara dua pendapat yang berbeda. Di satu sisi, fenomena ini dianggap sebagai
bentuk perawatan diri yang wajar. Di sisi lain, ada pandangan bahwa orang
dewasa tersebut gagal menjadi ”dewasa”. Untuk generasi muda yang menghadapi
tantangan finansial, tuntutan dalam karir, serta ketidakpastian masa depan, kidulting
menjadi semakin relevan untuk diperbincangkan.
Fenomena kidulting sebenarnya tidak terjadi dalam ruang hampa.
Banyak anak muda yang dibesarkan dengan budaya pop yang terus berlanjut bahkan
hingga mereka beranjak dewasa. Perusahaan hiburan juga menggunakan nostalgia
sebagai strategi pemasaran, sehingga garis pemisah antara ”hiburan anak-anak”
dan ”hiburan orang dewasa” semakin samar. Keterlibatan dalam aktivitas tersebut
kini tidak lagi dianggap aneh-melainkan menjadi hal yang wajar. Akan tetapi,
pandangan masyarakat tentang kidulting tidak selalu positif. Ada
anggapan bahwa menikmati mainan, cosplay, atau mendekorasi kamar dengan
karakter lucu dapat dianggap sebagai perilaku immature (tidak dewasa).
Padahal, tidak ada ukuran mengenai cara orang dewasa seharusnya
menikmati hidup. Sering kali kritik terhadap kidulting berakar dari
pandangan tradisional tentang kedewasaan yang lebih berwujud pada sifat serius,
kaku, dan selalu bertanggung jawab tanpa ruang bersenang-senang. Walaupun
demikian, kidulting tidak lepas dari potensi masalah. Ketika dijadikan
sebagai cara untuk melarikan diri yang berlebihan, contohnya dengan berbelanja
impulsif untuk merchandise mahal atau menghabiskan waktu untuk menghindari kenyataan,
kidulting bisa berujung pada isu baru yaitu tentang masalah keuangan,
produktivitas yang menurun, bahkan gangguan kesehatan mental. Aktivitas yang
seharusnya menyenangkan dapat berubah menjadi pengalih perhatian yang membuat
isu yang benar-benar penting justru terabaikan. Oleh karena itu, mungkin
diperlukan pendekatan yang lebih seimbang dan realistis.
kidulting tidak secara otomatis buruk atau baik karena
fenomena ini hanyalah salah satu generasi muda beradaptasi dengan tekanan
kehidupan modern. Di tengah situasi harga properti yang melambung tinggi,
pekerjaan yang semakin tidak stabil, serta budaya kerja keras yang melelahkan,
sangat wajar jika orang dewasa mencari tempat untuk bersantai demi menjaga
kesehatan mental. Pada akhirnya, yang terpenting adalah menemukan keseimbangan.
Menyukai lego, menonton kartun kesayangan, atau mengumpulkan figure favorit
bukanlah bukti kegagalan dalam beranjak dewasa selagi masih bisa mengatur
tanggung jawab yang lebih besar dalam kehidupan. Kidulting bukan tentang
kembali ke masa kanak-kanak, melainkan menemukan momen-momen ringan yang
membuat kehidupan dewasa lebih mudah dilalui. Jika aktivitas bermain dapat
membantu kita bertahan di dunia yang semakin rumit, mungkin tidak ada salahnya
untuk mempertahankan sedikit sisi anak-anak dalam diri kita. (Dian Aulia
Rahmah)