07

Okt

Ruang Sempit, Hati Terjepit: Realita Hoarder Disorder di Kalangan Remaja

Hoarder Disorder atau gangguan penimbunan adalah kondisi psikologis di mana seseorang mengalami kesulitan ekstrem untuk membuang barang-barang, bahkan yang tak lagi memiliki nilai guna. Akibatnya, ruang hidup menjadi penuh sesak, tidak berfungsi optimal, dan bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik maupun mental. Meski selama ini lebih dikenal terjadi pada orang dewasa, gangguan ini ternyata bisa mulai berkembang sejak usia remaja masa di mana identitas dan kontrol diri sedang dibentuk.

Penelitian dari National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa gejala hoarding bisa muncul sejak usia 11–15 tahun. Sebuah studi longitudinal berbasis 3.974 remaja usia 15 tahun yang diterbitkan dalam jurnal Journal of Child Psychology and Psychiatry (2013), menemukan bahwa sekitar 2% remaja menunjukkan gejala hoarding yang signifikan. Bahkan, bila indikator "ruang penuh" tidak dijadikan syarat utama karena remaja sering tidak sepenuhnya mengendalikan ruang pribadinya angka prevalensinya naik menjadi 3,7%. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku penimbunan bukan hal langka di kalangan remaja.

Di Indonesia, kasus hoarding mulai mendapat perhatian publik setelah beberapa insiden viral, seperti kamar kos mahasiswa yang penuh barang tak terpakai, hingga selebriti yang mengungkap kondisi anaknya yang tidak mampu membuang benda-benda sepele. Namun, kesadaran terhadap gangguan ini masih sangat rendah. Penelitian di Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung pada tahun 2022 menunjukkan bahwa mayoritas remaja tidak mengetahui bahwa perilaku menimbun bisa menjadi gejala gangguan psikologis. Sebanyak 65% responden tidak mengenal istilah hoarding disorder dan tidak mampu membedakannya dengan kebiasaan berantakan biasa.

Gangguan ini bukan sekadar masalah menyimpan barang. Banyak remaja dengan hoarding disorder memiliki hubungan emosional yang kuat dengan benda-benda tersebut, merasa cemas atau bahkan panik saat harus membuangnya, dan meyakini bahwa suatu saat barang itu akan berguna. Tak jarang kondisi ini berkaitan dengan trauma masa kecil, kesepian, gangguan obsesif-kompulsif (OCD), ADHD, atau depresi. Dalam kasus remaja dengan OCD, hampir 30% menunjukkan gejala hoarding dengan tingkat kesulitan mengambil keputusan dan kemampuan kontrol diri yang lebih rendah dibanding remaja lain.

Dampaknya sangat luas. Ruang tidur atau belajar menjadi tidak nyaman bahkan tidak layak pakai. Dari sisi kesehatan, tumpukan barang memicu kelembapan, debu, jamur, bahkan hama, yang bisa menimbulkan infeksi atau gangguan pernapasan. Dari sisi sosial, penderita bisa merasa malu, menarik diri, kehilangan produktivitas, hingga mengalami konflik keluarga. Banyak dari mereka merasa “terjebak” dalam ruang yang mereka sendiri tak mampu lepaskan, baik secara fisik maupun emosional.

Sayangnya, sistem pendukung untuk remaja dengan gangguan ini masih terbatas di Indonesia. Edukasi kesehatan mental di sekolah belum banyak membahas topik ini. Akses terhadap psikolog dengan spesialisasi hoarding masih sangat sedikit, dan banyak keluarga yang belum memahami perbedaan antara "malas" dan gangguan psikologis. Padahal, terapi kognitif-perilaku (CBT) telah terbukti efektif membantu penderita memahami alasan emosional di balik kebiasaan menyimpan barang, sekaligus melatih kemampuan membuat keputusan dan mengelola kecemasan.

Remaja membutuhkan ruang secara harfiah dan metaforis untuk tumbuh, merasa aman, dan bebas dari beban. Ketika ruang fisik mereka tertutup oleh tumpukan barang yang tak bisa dibuang, sering kali hati mereka pun ikut terjepit oleh rasa takut, kesepian, atau kehilangan. Memahami hoarder disorder bukan hanya soal merapikan kamar, tetapi tentang memberi ruang bagi remaja untuk pulih, dimengerti, dan tidak sendirian. -Naufal Resa Armadhani

 

Referensi yang di gunakan:

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3707873/

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23874893/

https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/da.20848

https://www.um-surabaya.ac.id/article/pakar-kesehatan-jiwa-um-surabaya-ungkap-penyebab-seseorang-alami-hoarding-disorder

https://www.jawapos.com/health-issues/013050578/mengenal-hoarding-disorder-mental-issue-yang-viral-di-media-sosial-tiktok-dan-cara-menanganinya