06

Mar

Mengapa Kita ‘Harus’ Berbagi Kebaikan?

Barangkali satu waktu kita sempat merasa kesal dan menyesal sebab perlakuan baik yang kita lakukan nyatanya tak membawa satupun imbalan yang sesuai harapan. Rasanya hati penuh gemuruh amarah dan hawa mendung seketika. Mempertanyakan dan berasumsi banyak hal tentang apa yang sedang terjadi. Diambang dilema apakah pantas kita mempertanyakan dengan sebuah kontra untuk memenuhi hasrat kepuasan. Ketahuilah teman, perasaan seperti itu ibarat sebuah fenomena khusus yang wajar bagi kita sebagai manusia. Tentu masing-masing dari kita setidaknya pernah satu kali merasa kecewa akibat perasaan tak berbalas dari apa yang kita upayakan. Iya, manusia memang selalu haus akan sebuah respon timbal balik serta secara alamiah selalu mencari hal yang lebih dan berharap bahwa segala sesuatu akan selalu sesuai dengan ekspektasi yang diharapkannya.

Tapi dari sebuah fenomena kewajaran yang kerap kali terjadi, pernahkah barangkali satu waktu kita mencoba untuk mendobrak batas kewajaran yang patut dipertanyakan? Kewajaran memang hal yang lumrah. Alamiah manusia juga bukan suatu hal yang dapat diperdebatkan untuk diasingkan. Akan tetapi tak mampukah kita mengambil alih diri untuk menjadi merdeka dari sebuah kewajaran yang membelenggu? Ketika hati rasanya sangat bertolak untuk menerima bahwa kebaikan yang kita beri nyatanya adalah sebuah kebaikan tak bernilai di mata orang lain. Ketika imbalan yang kita cari dan harapkan tak kunjung datang untuk menjemput kebahagiaan hati, ketika perasaan bercampur ingin berhenti agar tak lagi ada di ambang dilema perasaan dan kenyataan. Sanggupkah kita bertanya pada diri sendiri sebelum orang lain, maukah kita tetap setia berbagi kebaikan dan mendobrak batas kewajaran? Disamping mampukah kita turut pula berbagi imbalan sebaik-baiknya atas kebaikan yang telah kita terima?

Tahukah kamu? Mungkin saat ini, saat itu, saat nanti, semua kebaikanmu menjadi sebuah tanda tanya besar dalam anganmu. ‘Bukankah ini semua sia-sia?,’ pikirmu. Untuk apa terus berbagi kebaikan yang bahkan tidak pernah sekalipun kamu rasakan imbalannya. Untuk apa terus menjadi sosok pahlawan di hutan antah berantah yang barangkali sama sekali tak memiliki ruang singgah untuk kebaikanmu. Tapi dibalik pikiran ‘untuk apa’ dan segala pertanyaan lain, barangkali kamu tidak pernah tahu, hati mana yang dalam diam menjadi sangat tersentuh dan mencintai kebaikanmu, hati mana yang perlahan mulai terbuka berbagi hal yang sama karena kebaikanmu, jiwa mana yang mulai bertumbuh atas bantuan jalan kebaikanmu., dan barangkali masih ada berjuta alasan lain bagimu untuk tetap bertahan. Maka tetaplah berbagi kebaikan, sekalipun kamu belum menemukan jawaban atas satu harapan. Bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk dirimu. Berbuat baiklah karena kamu adalah kamu.

(Dziyaaul Hubbi Arsyad)