Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Jl. Semolowaru no. 45 Surabaya
Nov
Surabaya — Fenomena blind box kini menjelma menjadi gaya konsumsi baru yang memadukan rasa penasaran, tren media sosial, dan strategi pemasaran yang cerdik. Bagi sebagian orang, membeli blind box kemasan produk berisi barang misterius yang baru diketahui setelah dibuka adalah pengalaman menyenangkan. Namun, bagi yang lain, fenomena ini justru menyimpan sisi psikologis yang patut dicermati.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNTAG Surabaya memandang fenomena ini tidak sekadar tren hiburan, melainkan juga bentuk komunikasi pemasaran yang mengandalkan sensasi dan permainan emosi konsumen.
Dari Viralitas ke Budaya Konsumtif
Menurut Faellen, mahasiswa semester 7, popularitas blind box tidak lepas dari pengaruh selebriti dan tren global. “Fenomena ini muncul karena keberhasilan Lisa Manoban mempromosikan boneka Labubu dari Popmart. Dari situ publik menyoroti brand-nya dan banyak brand lain ikut memproduksi blind box,” jelasnya.
Ia menambahkan, blind box bukan hanya menarik karena isinya, tetapi karena rasa penasaran dan fear of missing out (FOMO) yang memicu orang untuk terus membeli hingga mendapatkan karakter yang diinginkan. “Hal ini akhirnya memunculkan rasa ketagihan,” ujarnya.
Lebih jauh, Faellen menyoroti bagaimana blind box kini menjadi simbol status sosial. “Setiap brand punya nilai gengsi sendiri, bahkan ada yang harganya bisa sampai puluhan juta. Jadi, kadang bukan cuma soal hobi, tapi juga citra sosial,” tuturnya.
Media Sosial dan Algoritma “Kejutan”
Sementara itu, Nadia, mahasiswa semester 5, menilai media sosial memainkan peran besar dalam membentuk tren ini. “TikTok sangat berpengaruh lewat algoritmanya. Konten unboxing yang viral menciptakan efek domino dan memicu FOMO pada penontonnya,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa strategi pemasaran semacam ini tidak sepenuhnya etis, terutama jika targetnya remaja yang mudah terpengaruh secara emosional. “Blind box memang unik dan seru, tapi ketika rasa penasaran dimanfaatkan secara berlebihan, itu sudah tidak sehat,” tegasnya.
Bagi Nadia, mahasiswa komunikasi seharusnya bersikap kritis terhadap pesan tersembunyi di balik strategi semacam itu. “Fenomena blind box mengajarkan bahwa tidak semua yang terlihat menyenangkan bebas dari kepentingan ekonomi. Kita perlu sadar siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan,” tambahnya.
Antara Hobi, Etika, dan Kesadaran Konsumen
Berbeda dari dua pendapat sebelumnya, Iyal, mahasiswa semester 5, menilai fenomena ini tidak bisa serta-merta disebut manipulatif. “Konsumen sebenarnya sudah tahu kalau isi produk acak. Jadi mereka sadar risikonya,” ujarnya.
Menurutnya, produsen justru berhasil memanfaatkan sisi kemasan dan keberagaman produk untuk menciptakan pengalaman belanja yang unik. “Kalau dilihat dari sisi komunikasi pemasaran, ini strategi yang menarik. Tapi dari sisi konsumen, penting untuk tetap bijak dan mempertimbangkan nilai serta keyakinan pribadi sebelum membeli,” tambahnya.
Refleksi Mahasiswa Ilkom
Fenomena blind box menjadi cermin bagaimana komunikasi pemasaran modern bekerja — memadukan psikologi, media sosial, dan budaya populer dalam satu kemasan kejutan.
Tiga pandangan mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNTAG Surabaya ini memperlihatkan kesadaran kritis bahwa di balik “kejutan kecil” yang menyenangkan, ada sistem besar yang mengatur perilaku konsumsi masyarakat.
Mereka sepakat, menjadi konsumen cerdas bukan berarti menolak tren, tetapi memahami pesan dan mekanisme di baliknya. Karena dalam dunia komunikasi, setiap “kotak kejutan” selalu menyimpan makna bukan hanya produk, tapi juga pesan tentang siapa yang mengendalikan perhatian dan keinginan kita.