INTISARI BUKU “RYAN TRANSFORMASI SANG JAGAL JOMBANG”

Rabu, 27 April 2022 - 12:00:52 WIB
Dibaca: 63 kali

INTISARI BUKU “RYAN TRANSFORMASI SANG JAGAL JOMBANG”

Buku “Ryan Transformasi sang Jagal Jombang” merupakan buku yang ditulis oleh Doan Widhiandono dan Noor Arief Prasetyo dengan total 278 halaman. Doan merupakan Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang juga berprofesi sebagai penulis buku dan jurnalis Harian Disway bersama rekannya Noor Arief. Dalam pandangan penulis, Ryan sang jagal jombang diceritakan dan digambarkan secara mendalam mengenai kisah dan latar belakang motif pembunuhan yang ia lakukan. Sebagai penulis, Doan menjelaskan bahwa cerita mengenai Ryan mempunyai sisi human interest atau kisah yang menarik perhatian pembaca yang tinggi. Bahwa yang membuat Ryan melakukan kejahatan dan mempunyai perilaku menyimpang tersebut salah satunya dikarenakan faktor keluarga.

Diceritakan oleh penulis, bahwa Ryan telah menyaksikan ibunya berselingkuh sejak ia kecil. Hingga pada moment dia melihat ibunya bersetubuh dengan seorang laki-laki yang terhitung masih kerabatnya. Semua itu menjadikan Ryan memiliki pribadi yang kompleks dan sangat membenci ketidaksetiaan. Maka seluruh korban yang telah dibunuh oleh Ryan bukan berdasarkan ekonomi melainkan atas dasar rasa muak dan ketidaksukaan yang muncul dan menguasai pikirannya yang membuat Ryan nekat menghabisi nyawa korbannya.

Nilai aktual buku ini sendiri yaitu dimana Ryan berupaya melakukan sebuah transformasi diri di dalam lapas Gunung Sindur Jawa Barat, yang dijelaskan Ryan baru saja wisuda Hafiz Quran atau penghafal Al-Quran. “Ada informasi terbaru ternyata bahwa Ryan baru saja wisuda hafiz, wisuda penghafal Al-Quran di Lapas Gunung Sindur, dari situ ketemu lagi angle-nya dan sisi aktualitasnya bahwa ternyata Ryan berupaya mentransformasi diri menjadi sosoknya yang sekarang.” Ujar Doan. Dalam hal ini penulis tidak menjustifikasi bahwa Ryan menjadi lebih baik hingga bertobat dengan usaha maksimal, dalam hal ini penulis hanya menampilkan fakta-fakta bagaimana sosok Ryan, bagaimana penampilannya, aktivitas-aktivitas dan ucapannya yang dituliskan dibuku secara detail dan bebas bagaimana pembaca dalam menilainya.

Menurut penjelasan penulis buku dengan judul “Ryan Transformasi sang Jagal Jombang” ini merupakan kumpulan naskah dengan jenis feature. Dari kejadian-kejadian dan fakta yang diperoleh oleh penulis dari narasumber yaitu Ryan dan Ibunya Siatun dapat ditarik sebuah benang merah bahwa sebenarnya yang bermasalah bukan hanya Ryan tetapi juga sang ibu dan juga kehidupan keluarganya secara umum sehingga Ryan dapat dengan mudahnya membunuh dan menyembunyikan sepuluh jenazah hingga satu tahun lamanya.

Insight atau pandangan selanjutnya diutarakan oleh narasumber dari Dosen Ilkom Untag Surabaya, Drs. Jupriono, M.Si yang menungkapkan ketika belum tuntas membaca buku tentang Ryan tersebut, sudah dapat terbayangkan betapa pelik dan rumitnya penulis dalam menjaring data dan menginvestigasi di lapangan mulai dari rumitnya mengurus administrasi birokrasi, membuat ibu Ryan yaitu Siatun menaruh kepercayaan dan meluluhkan kerasnya hari Ryan hingga ikhlas membuka diri. Hal tersebut dianggap sebagai modal yang layak dalam menjaring data yang dibutuhkan oleh penulis.

Lebih lanjut Jupriono mengomentari bagaimana karakter Ryan yang dibentuk oleh keluarganya sejak kecil. Ryan yang kalem dan santun bila tersinggung dan terlukai hatinya sontak menjadi sadis, bengis dan beringas hingga dapat disebut sebagai “pembunuh berdarah dingin”. Pemicu dari kesadisan Ryan menurut Jupriono setelah membaca buku “Ryan Transformasi sang Jagal Jombang” yaitu sebuah ketidaksetiaan, perselingkuhan dan pelecehan harga diri. Selanjutnya dari sisi pola asuh terhadap Ryan kecil, Ryan yang tumbuh dewasa dengan orientasi seks gay yaitu, diduga dibentuk tanpa sadar salah satunya oleh pola asuh “pragmatis”. Bahwa ketika seorang laki-laki dibiasakan memakai daster yang diduga menjadi dasar dimulainya orientasi seks yang salah. Misalnya seperti apa yang dialami Ryan, dimana Ryan kecil dipakaikan daster oleh sang ibu yaitu Siatun dengan alasan agar mudah buang air kecil.

Selanjutnya Ryan dianggap tumbuh dengan kebencian yang teramat sangat pada ketidaksetiaan. Dari kecil Ryan melihat pemandangan yang tak senonoh tentang ketidaksetiaan dan perselingkuhan dalam keluarganya. Dalam pandangan lain mengenai ibu Ryan Siatun yang sudah menikah tiga kali dan berselingkuh berkali-kali memiliki prinsip bila selingkuh tidak ketahuan keluarga dan dilakukan di luar Jombang. Yang dimana hal tersebut kontra dengan etika seksual jawa bahwa keburukan hubungan seksual di luar nikah bukan karena prinsip moral-agama, melainkan wajib menjaga keharmonisan sosial dan keluarga. Terakhir menurut Jupriono gaya human interest dari penulis buku “Ryan Transformasi sang Jagal Jombang“ merupakan karya jurnalistik kriminalitas sadis tentang pembunuhan berantai ini tetapi penulis tetap menampilkan sisi human interest yang terselip canda ringan dan warna lokal yang sekiranya sengaja diselipkan untuk mengurangi dan menyamarkan susana horor pembunuhan sadis oleh Ryan.

Terakhir pandangan oleh Fathul Qorib yang merupakan dosen Universitas Tribhuwana Tungga Dewi (Unitri) mengungkapkan ide pertama yang menarik dari tema ini adalah yaitu ketika di awal mengetahui bahwa Ryan seorang penghafal Quran. Sebelum mengetahui hal tersebut, Fathul menjelaskan memiliki pandangan yang cukup memandang Ryan sebagai penjagal yang sadis. Kemudian dalam sisi penceritaan dijelaskan bahwa buku tentang Ryan ini di awal memiliki alur yang terjadi saat ini atau sekarang ini yang penceritaan selanjutnya memiliki alur mulai dari awal hingga kejadian saat ini yang dapat dipahami bahwa penceritaan yang dimunculkan di awal adalah hasil akhir yang baru menjudu pada alur awal cerita yang dapat membuat pembaca berfikir bagaimana seorang penjagal bisa menjadi penghafal Quran. Jadi ending cerita telah diketahui terlebih dahulu. Kemudian dari segi bahasa dianggap memiliki bahasa yang sekiranya dapat dipahami semua orang atau kalangan. “Bahasa yang digunakan oleh penulis sangat renyah dan akrab.” ungkap Fathul

Fathul menjelaskan bahwa buku tentang Ryan ini dapat dikategorikan sebagai jurnalisme sastrawi yang pada hasil akhirnya kepada soft journalism. Jurnalisme ini biasanya mengangkat kisah-kisah yang muncul dari hard news, jadi dibalik kisah dan buku ini jelas merupakan dibalik kisah pembunuhan Ryan yang dimunculkan lagi apa unsur kebaharuannya. Buku ini dapat memberikan perspektif lain dari kejahatan yang dilakukan oleh Ryan. Hal yang menarik menurut Fathul dari buku ini adalah bahwa manusia dapat berbuat salah, buruh dan sadis tetapi sesadis-sadisnya manusia melakukan hal tersebut masih memiliki awal mula atau penyebab dan masih ada pintu taubat. (DP)


Untag Surabaya || FISIP Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya